-moz-border-radius: 0.5em 0.5em 0.5em 0.5em; border-radius: 0.5em 0.5em 0.5em 0.5em; border-top: 2px solid #FF6699; border-bottom: 2px dotted #FF6699; border-right: 10px solid #FF6699; border-left: 10px solid #FF6699; background: $(main.background); Sahabat Telah Pergi (SINOPSIS) ~ Siti Miftahul Jannah Sitii Miftahul Jannah

Kamis, 27 Februari 2014

Sahabat Telah Pergi (SINOPSIS)

Oleh: 

Sitii Miftahul Jannah



*part 1
Nabella adalah namaku, Dinda dan Finna adalah temanku, kami adalah 3 sekawan yang selalu bersama-sama setiap saat.. Belajar bersama, makan di kantin bersama dan bercanda tawa pun bersama-sama sehingga kami tidak bisa terpisahkan oleh apapun.
Di pagi hari yang cerah dengan suasana yang sejuk nan indah ditambah dengan kicauan burung yang sangat merdu membuat suasana pagi ini terasa sangat mempesona. Bel berbunyi tanda untuk masuk kelas, sebelum bella memasuki kelasnya ia melihat Dinda sedang kesakitan dengan nada yang sedikit lemah duduk diatas kursi dan menutupi mulutnya dengan jilbab yang dia pakai. “apakah kau sakit Dinda atau ada yang mengganggumu di kelas ini”, bella bertanya karena berpikir dia kesakitan atau ada yang mengganggunya. “aku tak apa-apa” jawabnya dengan nada lemas. “tapi wajahmu sudah sangat pucat”, apakah kau tak mau istirahat di UKS, tanyaku kembali.
Dengan gayanya yang super gawat bella pun memasuki kantor dan meminta kunci UKS. “permisi pak, saya mau mengambil kunci UKS, teman saya ada yang sakit pak”, pintaku dengan sopan. “oh iya, kunci UKS ada dilemari disebelah ruang kepala sekolah dan ada pitanya yang berwarna merah-putih”, jawab pak kepala TU yang berbicara dengan bella tadi. Bella pun segera mencari pita yang dimaksud dan akhirnya “a..a..haaa.. ini dia kunci dengan pita merah-putih sudah ditemukan. Dengan gesitnya seperti petir yang menyambar bella pun membuka pintu ruang UKS, finna dan dua teman yang lainnya membawa Finna ke ruang UKS. Karena sudah tak tahan lagi bella pun membaringka Finna di atas tempat tidur, bella melepas sepatunya dan melonggarkan dasi Finna  sembari memberikan minyak angin agar dia merasa lebih baik dan juga membiarkannya istirahat sendirian di ruang UKS selama jam pelajaran.
   ------------------------ Keesokan harinya -----------------------
*part 2
#Di depan Gerbang sekolah
          Bella………..
          Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak padanya dari belakang. “oh ternyata itu Finna yang sudah ada di belakangku”, 
Bella dan Dinda melihat Finna sedang berdiri sendirian disamping musholla sembari melihat ikan-ikan yang berada di kolam tepat ia berdiri di sebelah kanannya dengan wajah yang sudah di bilang sehat karena tidak terlihat seperti orang yang lagi sakit saat kejadian kemarin di kelas itu dan bella pun mendekatinya. “Finna kita besok kepantai yuk, besok kan hari Jum’at” ajak bella dengan senangnya. Finna hanya diam dan tak berkata apapun padanya bahkan ia mengacuhkan apa yang bella katakan lalu finna pergi ke kelas sendirian. “tak seperti biasanya ia begitu” batinknya dalam hati. Bella merasa heran dan bertanya pada pada Dinda.
          “ada apa dengannya, kenapa dia seperti itu,,?”
          “aku juga tak tahu..yang aku tahu kemarin dia kesakitan lalu pulang  sekolah dia dijemput oleh seorang pria yang bukan ayahnya…sepertinya begitulah” Dinda mendera
Aku curiga dengan sikap Dinda yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Setelah pulang sekolah Aku pun mengikuti Finna sendirian agar aku  tahu apa yang terjadi, di depan toko Jeva Mart yang berjarak 20 meter dari gerbang sekolah Bella melihat Finna di jemput oleh seorang pria berjaket hitam, memakai sepatu dan kira-kira orang itu berumur diatas 20 tahunan.
          Aku pun bergegas mengikuti Finna dengan motor yang ia bawa. Setelah 10 Bella mengikutinya, Finna dan orang yang berjaket hitam itu akhirnya berhenti di depan apotek.
          “untuk apa mereka pergi ke apotek…apakah Finna sedang sakit atau dia mempunyai penyakit parah !!aahhh… sepertinya tidak, batinku dalam hati.
*Aku bingung dengan keadaan Finna yang sudah sangat berubah bahkan gerak-geriknya pun mencurigakan.
1: Apa yang menyebabkan Finna sakit seperti kemarin itu?
2: Mengapa gerak-geriknya mencurigakan?
3: Untuk apa dia pergi dengan seorang pria yang menjemputnya tadi?
4: Kenapa dia pergi ke apotik
5: Apakah dia mempunyai penyakit yang membuatnya seperti itu?
Aahhhh…. Sudahlah. Semua pertanyaan itu membuatku bingung dan ingin sekali aku mencari tahu hal itu.
#Di depan Rumah Finna
          Finna berjalan sendirian dengan membawa kantong plastik berwarna hitam di sebelah kirinya dan sepertinya itu yang dia beli dengan orang yang berjaket hitam di apotik tadi……
          “Finna, kenapa kau baru pulang” tanyaku
          “Sepulang sekolah tadi aku mampir ke rumah Dinda sebentar” jawabnya dengan polos.
Aku berfikir bahwa Finna memang menyembunyikan sesuatu dan bahkan dia berbohong padaku tentang setelah pulang sekolah tadi.
          “ohh iya, aku mau meminjam buku fisika catatanmu, aku tadi tidak mencatat apapun tentang fisika, boleh kan??. Lalu dikeluarkannya buku fisika itu dari tasnya. Terima kasih Finn…….aku pulang dulu yaa !!
        ------------------------------Keesokan Harinya-----------------------------
*part 3
Setelah pulang sekolah Aku, Finna, dan Dinda mampir ke toko Morin yang berada di depan sekolah untuk membeli kertas dan alat-alat yang lainnya sebagai bahan untuk membuat madding. Tiba-tiba datang seorang pria yang berjaket hitam, celana jeans dan orang itu adalah pria yang bersama dengan Finna di apotik kemarin itu, Dia menatap wajah Finna dengan penuh harap.
          “Finna….. apakah kamu ada waktu untukku” pria itu berkata pada Finna.
“Aku ma……” Finna menjawab dengan mendesah. Lalu aku memotong pembicaraan mereka dengan cepatnya.
          “Finna, ayo cepat kita selesaikan bahan ini untuk membuat mading ini” ajakku sambil menarik tangannya dengan cepat.
Seketika aku meng-gas motorku dengan cepatnya agar Finna tak berlama-lama berbicara dengan pria yang berumur 20 tahunan itu.
#Di Rumah Finna
          Setelah sampai, aku, Finna dan Dinda segera menyelesaikan karya madding yang akan mereka buat untuk persiapan lomba madding sekolah.
          “Bella”
          Aku ingin bercerita denganmu boleh tidak?
          “tentu” jawabku
          “Pria yang kau lihat tadi di morin itu adalah pacarku” jelasnya
          “Dia adalah pacarku yang sangat aku sayangi, dia sangat memperhatikanku, sangat menyayangiku dan aku tak ingin berpisah dengannya, maka dari itu aku bingung !! aku ingin agar ibuku menyetujuiku berpacaran dengannya”
Aku pun terdiam dan terpaku tanpa berbicara sedikitpun agar ia melanjutkan ceritanya.
          “Aku sering bertemu dengannya, bahkan tanpa sadar aku pernah melakukan hal diluar kendaliku” terangnya dengan sangat detail.
          “Finna !! sejak kapan kau berhubungan dengannya dan bagaimana kalau ibumu tahu tentang hal ini finn?
          “sudah 2 bulan yang aku berpacaran dengannya, itulah yang menjadi pertanyaanku selama ini, apakah ibuku akan menyetujuiku berpacaran dengannya, aduuhhh… aku bingung” !! -_-
Hanya aku dan Finna yang tahu percakapan ini sedangkan Dinda sedang membeli makan ringan.
 ------------------------------------Keesokan Harinya------------------------------------
*part 4
Saat berada di sekolah aku sama sekali tidak melihat Finna bahkan batang hidungnya pun tak terlihat. Sepulang sekolah aku pergi kerumah Finna.
          “permisi !! bibi apakah Finna ada di rumah” tanyaku dengan lembut.
          “Bella belum tahu. Finna sekarang berada di rumah sakit” terangnya
          “apakah itu benar bi’, kemarin saya bertemu Finna tapi dia masih baik-baik saja. Sejak kapan dan dirumah sakit mana bi’ dia sekarang?
          “Kemarin nonFinna memang baik-baik saja, tapi tadi malam sekitar jam 10.00 tiba-tiba dia merasa kesakitan dan bibi tidak tahu karna apa dia sakit? Jelasnya
Mendengar kabar itupun Bella langsung pergi RS yang dimaksud.
#Receptionist#
“permisi mbak, apakah disini ada pasien yang bernama Finna Berlyana” tanyaku
          “Finna Berlyana berada di kamar 237 lantai 4”jawabnya
          “237 ! 237 ! 237 !  hanya itu saja yang ada dalam pikiranku sembari mencari kamar yang dimaksud”
          Setelah aku buka pintu geser kamar pasien, ternyata di dalam sudah ada Dinda yang menemani Finna
          “Bella” Finna memanggilku.
          “Iya, ada apa?” jawabku
          “aku ingin memberitahu sesuatu padamu”
          “tentang apa Finn”tanyaku kembali
          “apakah kau tahu bahwa aku berada disini karena apa? Karena aku menderita penyakit yang tak bisa diobati” terangnya
          “mak..sud..mu HIV !! benarkah itu?
          “iya, aku menderita penyakit HIV dan setelah ini aku akan dikarantina” jelasnya dengan pelan.
Mendengar hal itu aku tak percaya bahwa Finna mengidap penyakit HIV.
          “Bukankah jika dikarantina itu merupakan bentuk peralihan antara hidup dan mati, apakah itu benar finn?
          “aku juga tak tahu pasti” jawabnya dengan lemas.
Dinda yang mendengar cerita dari Finna pun ikut merasa sedih.
          “Bella, Finna, dan Dinda pun menangis tanpa henti-hentinya tanpa tersadar mereka berdua tertidur lelap.
#Pagi Harinya
Bella terbangun karena mendengar kalbulator yang berada di sampingnya berbunyi..
“Finn.. Finna apakah kau baik-baik saja?
          “Dinda.. bangun din,,,Finn.. finna kenapa !
Dengan cepatnya aku memanggil Dokter dan suster yang berada di luar agar memeriksa keadaan Finna.
          “nyawa teman kalian sudah tidak bisa tertolong lagi…”
Mendengar hal itu aku dan Dinda pun merasa kehilangan teman kami yang sangat baik.

Satu bulan kemudian……………

Dari kepergian Finna itu aku baru menyadari ternyata yang namanya sahabat itu tidak bisa dipisahkan walau apapun yang terjadi. Meski Finna kini sudah tidak ada namun kebersamaanku bersama Finna dan Dinda masih bisa dirasakan walau pun kami tak bersama lagi. Bahkan Gelang tanda sahabat pun masih aku gunakan  sampai saat ini, dan di bawah pohon mangga ini aku ingin menyanyikan satu lagu kesukaan kami bertiga yaitu “WISH YOU WERE HERE”







Tidak ada komentar:

Posting Komentar